“bermimpilah setinggi langit karena jika engkau jatuh, jatuhnya ke bintang-bintang”- Ir.Soekarno 

Ketika Tuhan Memeluk Mimpi 

Sejak menginjakan kaki di kampus perjuangan Intitut Teknologi Sepuluh Nopember saya sudah berkeinginan untuk melanjutkan sekolah sehingga empat tahun kuliah saya berusaha buat mempertahankan IP diatas 3. Selepas lulus dari jurusan sistem informasi saya sempat mendaftar beberapa beasiswa ke bebeberapa negara, karena memang tujuan saya adalah melanjutkan sekolah di luar negeri dan gagal. Akhirnya saya memutuskan untuk menunda “Dream Project” saya itu dan bergabung di salah satu bank multinatinasional. Keputusan menunda bukan berarti saya menghapus “meneruskan sekolah” dari buku list mimpi saya. Saya masih rajin mencari informasi tentang beasiswa. Setelah enam bulan menjadi company slave, akhirnya Tuhan menjawab mimpi saya. Akhir Juni 2012 saya mendapat kabar kalau aplikasi saya diterima. Saya diterima di salah satu kampus bernama Ajou University.



Negeri itu Bernama Korea 

Disambut hujan gerimis
Akhir Agustus 2012 saya tiba di Korea disambut rintik gerimis. Saya datang tepat ketika awal musim gugur sehingga curah hujan cukup tinggi. Saya sempat kaget ketika datang, karena korea sangat bersih. Bahkan ketika hujanpun tidak terlihat ‘becek’ seperti halnya negeri kita tercinta. Satu lagi yang saya perhatikan, orang korea tidak segan untuk naik kendaraan umum. Alasannya mungkin karena transportasi disini sangat nyaman seperti bis dan kereta bawah tanah.

Gwanghamun
Beberapa bulan di Korea membuat saya banyak belajar baik untuk hardskill maupun dari budaya mereka. Kebiasaann mereka yang paling mencolok tentu saja gaya bekerja mereka. Orang korea sangat pekerja keras dan terbiasa melakukan semua hal dengan cepat. Mereka penganut prinsip ‘Ppali.. Ppali’ yang artinya ‘cepat..cepat’. Jadi jangan pernah mikir untuk ‘leyeh-leyeh’ di Korea karena akan selalu ada yang meneriaki kalian dengan kata itu. Walaupun terkesan cuek, orang Korea sangat ramah. Mereka akan dengan senang hati membantu kita kalau kita butuh. Tentu saja kadang untuk meminta bantuan saya punya tantangan sendiri yaitu bahasa. Sebagai seseorang yang cuma belajar bahasa korea dari drama dan variety show Korea, saya harus bersusah payah karena bahasa yang kita dengar di drama berbeda dengan bahasa sehari-hari. Gampangnya di drama memakai ‘boso ngoko’ dan untuk sehari-hari mereka memakai ‘boso kromo’.

Kolam di Gyeongbok Palace
Orang korea juga sangat mencintai budaya mereka. Walaupun sudah banyak gedung pencakar langit di Korea, mereka tetap merawat peninggalan-peninggalan leluhur mereka. Sehingga tidak jarang kita melihat bangunan-bangunan bersejarah yang dirawat dengan super cantik di sini. Maka tidak perlu kaget kalau sekarang Korea jadi tujuan wisata yang terkenal.

Satu lagi yang paling menarik dari korea adalah musimnya. Korea merupakan salah satu negara yang mempunyai empat musim. Sebagai gadis kampung tentu saja hal ini sangat spesial buat saya karena tentu saja untuk pertama kalinya saya bisa makan salju (iya.. saya memang katrok) dan foto bareng bunga sakura. Seperti yang dibawah ini, ini empat musim yang sudah saya lewati di kampus saya.

Fall, Spring, Winter, Summer

Mencicip berbagai rasa 


Belajar di negeri orang membuat saya belajar banyak hal. Salah satunya bekerja sama dengan orang korea itu sendiri. Sebagai seorang graduate student saya diharuskan untuk masuk ke salah satu lab. Di sini saya bergabung dengan NISE (Knowledge Intensive Software Engineering) Lab. Sebagian besar waktu saya di Korea dihabiskan di lab untuk research. Kehidupan di lab hampir sama dengan kehidupan di kantor, tiap orang punya ‘kotak’ masing-masing. Di lab inilah saya banyak berinteraksi dengan orang korea karena saya satu-satunya foreigner.


 Untungnya professor saya termasuk profesor yang ‘gaul’ sehingga kadang beliau suka mengajak kita untuk wisata baik dalam maupun luar kota. Contohnya pada pertengahan musim semi ini, professor mengajak semua anggota lab untuk mengunjungi Hwaseong Fortress salah satu world heritage site.


Bergabung di lab memberikan banyak kesempatan untuk saya. Salah satu yang paling berkesan yaitu saya berhasil membuat paper yang lolos di salah satu International Conferences di bidang teknologi informasi dan membuat saya berkesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian saya dihadapan para delegasi dari berbagai negara. Hal ini menjadi kebanggan tersendiri untuk saya karena selain membawa nama pribadi saya juga tentu saja membawa nama Indonesia.


Tidak hanya dibidang akademik, banyak pengalaman lain yang saya alami seperti bermain salju, melihat bunga sakura yang berguguran dan tentu saja memakai baju tradisional korea. Menjadi seorang pelajar indonesia di negeri orang tentu saja kita tidak akan sendirian. Banyak pelajar Indonesia yang sama- sama mengejar mimpi, mereka biasa dikenal dengan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). PPI sendiri tersebar di seluruh dunia mulai dari amerika sampe afrika. PPI korea sendiri dikenal dengan PERPIKA. Bergabung dengan perpika menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Contohnya saya berkesempatan berkomunikasi dengan dua orang penting di Indonesia yaitu bapak Ilham Habibie, putra pertama presiden Habibie, dan Ridwan Kamil, walikota terpilih Bandung.


Pastinya banyak sekali yang saya dapat selama satu tahun di Korea. Tentu saja semua itu tidak didapat dengan mudah yang terpenting adalah bagaimana kita tetep memegang teguh mimpi-mimpi kita. Jangan pernah merasa rendah diri. Biarkan mimpi-mimpi kita melambung tinggi hingga Tuhan bisa memeluk mimpi kita. Ketika saya bisa yakinlah bahwa kalian juga bisa

Salam Rindu untuk sekolahku SMAN 11 Surabaya dan adik-adikku semua,

Theresia Ratih Dewi Saputri dari Negeri yang panasnya udah sama kayak Surabaya kalau lagi Summer.

Poskan Komentar

  1. wah keren lah, saya juga akan menyusul XD, aminn

    BalasHapus
  2. Kerennnnn...
    ªķΰ pengen kyk mbaknya..
    Semoga saya juga bisa.
    Amien.

    BalasHapus
  3. great! that;s awesome.. so inspiring for me. taruh mimi mimpi kita dalam jarah 1 cm di depan mata kita (h)

    BalasHapus

 
Top